PENGERTIAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA
1. Apa Yang Dimaksud Dengan
Pembagunan Masyarakat Desa ?
Pembangunan masyarakat desa adalah
upaya yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan untuk mencapai
masyarakat desa yang di cita-citakan guna mencapai masyarakat sejahtera
(perubahan pola hidup dan pola tingkah laku dari berfikir tradisonal menjadi
masyarakat yang modern). Desa merupakan daerah otonom bedasarkan adat istiadat
dan kearifa local.
2.
Mengaharus Ada Pembangunan Desa ?
Karena desa merupakan ujung tombak
pemerintahan, garda terdepan dari pembangunan. Orang desa juga menginginkan
pembangunan, orangd desa juga patut merasakan pembangunan, Beberapa upaya
pemerintah untuk membangun desa diantara dengan IDT dan dirjen PMDPemnagunan
memfokuskan kepada desa. Pembanguna desa dilaksanakan di berbagai sector. Salah
satunya adalah mewujudkan pertanian yang modern Presepsi mengenai pembangunan
masyarakat desa.
3.Konsep Dasar Pembagunan Masyarakat
Desa, Maksud Dan Tujuan
Para pakar yang memberikan pengertian
bahwa terdapat perbedaan pemahanan tentang konsep pembangunan dari satu orang
dengan orang lain, daerah satu dengan daearah lain, Negara satu dengan Negara
lain. Tetapi secara umum ada suatu kesepakan bahwa :
“ Pembangunan merupakan suatu proses untuk melakukan suatu perubahan ”
(Riyadi Dan Deddy Supriyadi)
1.Pengertian Pembangunan
(Bintoro Tjokroamidjoyo)
“ Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial secara berencana
denngan meliputi berbagai dimensi untuk mengusahakan kemajuan dalam rangka
kesejahteraan ekonomi, modernisasi, kemajuan bangsa, wawasan lingkungan da
bahkan peningkatan kualitas manusia untuk memperbaiki kualitas hidup.”
Masyarakat Tradisional
Masyarakat tradisional cenderung menggunaka
alam seenaknya dikarenakan pengetahuannya yang masih kurang.
Oleh karena itu diperlukan adanya
suatu usaha peningkatan kualitas manusia. Maka pembangunan mengajarkan kepada
masyarakat akan pengetahuan masyarakat untuk mengelola alam dengan arif dan
bijaksana.
Dengan membangun sarana dan prasarana
pendidikan, dengan pendekatan secara keseluruhan dan peningkatan kualitas
hidup.
Sondang H. Siagian :
“Pembangunan adalah sebagai suatu
usaha atau rangkaian usaha”
Dalam rangaka pertumbuhan (yang
tadinya tidak ada menjadi ada) dan perubahan yang berencana dan dilakukan
secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah menuju modernisasi dalam
rangka pembinaan bangsa.
Ginanjar Kartasasmita :
“Pembangunan mengarah kepada proses
perubahan ke arah yang lebih baik ( jika tidak lebih baik maka itu bukan
pembangunan) melalui upaya yang dilakukan secara terencana”
Kesimpulan :
Jadi pembangunan adalah segala upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik dalam konteks
bidang ekonomi maupun social yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan tanpa
merusak lingkungan atau kehidupan social.
(Pembangunan yang merusak kehidupan social contohnya adalah pembangunan
tempat prostitusi di lingkungan masyarakat)
1.
Pengertian Masyarakat
a.
Berikut pengertian masyarakat menurut para ahli
·
Selo sumardjan :
“Orang-orang yang hidup bersama dan
menghasilkan kebudayaan.”
·
Koentjaraningrat :
“ kesatuan hidup bersama yangn
berinteraksi menurut suatu system adat istiadat tertentu yang bersifat continue
dan terikat oleh identitas yang sama. “
Ralph :
“ Kelompok manusia yang hidup dan
bekerja sama dalam usaha yang relative lama maupun membuat keteraturan dalam
kehidupan bersama, mereka menganggap sebagai suatu kesatuan social”
b.
Ciri-Ciri Suatu Masyarakat
1.
Manusia yang hidup bersama
2.
Bergaul dengan waktu yang lama dan sebagai akibat hidup bersama timbul
system komunikasi dan peraturan peraturan yang mengatur hubungan antar manusia
3.
Sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan
4.
Suatu system hidup bersama dan menimbulkan hubungan karena mereka meresa
dirinya terikat satu dengan yang lainnya.
PEMBANGUNAN PEDESAAN
Pembangunan pedesaan telah banyak
dilakukan sejak dari dahulu hingga
sekarang, tetapi hasilnya belum
memuaskan tehadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat pedesaan. Pembangunan
pedesaan seharusnya dilihat bukan hanya
sebagai obyek tetapi juga sebagai
subyek pembangunan.
Pembangunan pedesaan harus dilihat
sebagai:
(1) upaya mempercepat pembangunan
pedesaan melalui penyediaan prasarana dan
saran untuk memberdayakan masyarakat,
dan
(2) upaya mempercepat pembangunan
ekonomi daerah yang efektif dan kokoh.
Pembangunan pedesaan bersifat multi
aspek oleh karena itu perlu di
analisis/secara lebih terarah dan
serba keterkaitan dengan bidang sektor, dan aspek
di luar pedesaan (fisik dan non fisik,
ekonomi dan non ekonomi, sosbud dan non
spasial). Pembahasan berikut ini
meliputi bebagai aspek yang terkait dengan
kebijaksanaan dan strategi pembangunan
pedesaan.
TUJUAN DAN SASARAN
Tujuan pembangunan pedesaan jangka
panjang adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan secara langsung
melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan
berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha dan bina manusia, dan secara
tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan
nasional.
Tujuan pembanguan pedesaan jangka pendek
adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan ekonomi dan
pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.
Tujuan pembanguan pedesaan secara
spasial adalah terciptanya kawasan pedesaan yang mandiri, berwawasan
lingkungan, selaras, serasi, dan bersinergi dengan kawasan-kawasan lain melalui
pembangunan holistik dan berkelanjutan untuk
mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya
saing, maju dan sejahtera.
Sasaran
Sasaran pembangunan pedesaan adalah
terciptanya:
-
Peningkatan
produksi dan produktivitas
-
Percepatan
pertumbuhan desa
-
Peningkatan
keterampilan dalam berproduksi dan pengembangan lapangan kerja dan lapangan
usaha produktif.
-
Peningkatan
prakarsa dan partisipasi masyarakat.
-
Perkuatan
kelembagaan.
-
Pembangunan
pedesaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi, potensi
yang dimiliki, serta aspirasi dan prioritas masyaraka pedesaan.
Ruang Lingkup Pengembangan Pedesaan
Pengembangan pedesaan mempunyai ruang
lingkup, yakni:
1.Pembangunan
sarana dan prasarana pedesaan (meliputi pengairan, jaringan jalan, lingkungan permukiman dan lainnya).
2.Pemberdayaan masyarakat.
3.Pengelolaan sumberdaya alam (SDA)
dan sumberdaya manusia (SDM).
4.Penciptaan
lapangan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan (khususnya terhadap
kawasan-kawasan miskin).
5.Penataan keterkaitan antar kawasan
pedesaan dengan kawasan perkotaan (inter rural-urban relationship).
Prinsip-Prinsip Pembangunan Pedesaan
Pembangunan pedesaan seharusnya
menerapkan pninsip-prinsip yaitu:
(1) transaparansi (keterbukaan), (2)
partisipatif, (3) dapat dinikmati mayarakat, (4) dapat dipertanggungjawabkan
(akuntabilitas), dan (5) berkelanjutan (sustainable). Kegiatan-kegiatan
pembangunan yang dilakukan dapat dilanjutkan dan dikembangkan ke seluruh
pelosok daerah, untuk seluruh lapisan masyarakat. Pembanguan itu pada dasarnya
adalah dari, oleh dan untuk seluruh rakyat. Oleh karena itu pelibatan
masyarakat seharusnya diajak untuk menentukan visi (wawasan) pembangunan masa
depan yang akan diwujudkan. Masa depan merupakan impian tentang keadaan masa
depan yang lebih baik dan lebih mudah dalam arti tercapainya tingkat kemakmuran
yang lebih tinggi. Pembangunan pedesaan dilakukan dengan pendekatan secara
multisektoral (holistik), partisipatif, berlandaskan pada semangat kemandirian,
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta melaksanakan pemanfaatan
sumberdaya pembangunan secana serasi dan selaras dan sinergis sehingga tercapai
optimalitas.
Ada tiga prinsip pokok pembangunan
pedesaan, yaitu:
Pertama:
Kebijaksaan dan langkah-langkah
pembangunan di setiap desa mengacu
kepada pencapaian sasaran pembangunan
berdasarkan Trilogi Pembangunan.
Ketiga unsur Trilogi Pembangunan
tersebut yaitu
(a) pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya,
(b) pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi, dan
(c) stabilitas yang sehat dan dinamis,
diterapkan di setiap sektor, temasuk desa dan kota, di setiap wlayah dan antar
wilayah secara saling terkait, serta dikembangkan secara selaras dan terpadu.
Kedua
Pembangunan desa dilaksanakan dengan
prinsip-prinsip pembangunan
yang berkelanjutan. Penerapan prinsip
pembangunan berkelanjutan mensyaratkan
setiap daerah lebih mengandalkan
sumber-sumber alam yang terbaharui sebagai
sumber pertumbuhan. Disamping itu
setiap desa perlu memanfaatkan SDM secara
luas, memanfaatkan modal fisik,
prasarana mesin-mesin, dan peralatan seefisien
mungkin.
Ketiga
Meningkatkan efisiensi masyarakat
melalui kebijaksanaan deregulasi, debirokratisasi dan desentralisasi dengan sebaik-baiknya.
Dalam melaksanakan kegiatan pembangunan pedesaan diperlukan kerjasama yang erat
antar daerah dalam satu wilayah dan antar wilayah. Dalam hubungan ini perlu
selalu diperhatikan kesesuaian hubungan antar kota dengan daerah pedesaan
sekitarnya, dan antara suatu kota dengan kota-kota sekitarnya. Hal ini disebabkan
karena pada umumnya lokasi industri, lokasi kegiatan pertanian atau
sektor-sektor lain yang menunjang/terkait cenderung terkonsentrasi hanya pada
beberapa daerah administrasi yang berdekatan. Dengan kerjasama antar daerah,
maka daerah- daerah yang dimaksud dapat tumbuh secara serasi dan saling
menunjang. Melalui kerjasama antara daerah-daerah/wilayah-wilayah dapat
diusahakan keseimbangan pertumbuhan antara sektor pertanian dan sektor-sektor
lain baik dari segi nilai tambah maupun
dari segi penyiapan tenaga kerja.
Strategi Pembangunan Pedesaan
Pembangunan masyarakat pedesaan merupakan
bagian dari pembangunan masyarakat yang diarahkan pula kepada pembangunan
kelembagaan dan partisipasi serta pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan
kesejahteraan pada satuan wilayah
pedesaan. Di negara-negara berkembang, secara demografis sebagian besar
penduduk tinggal di pedesaan dan memiliki tingkat pendidikan rendah.
Konsep pembangunan pedesaan menjadi
pusat perhatian negara-negara berkembang sejak tahun 1950-an sampai sekarang.
Setiap negara menerapkan strategi pembangunannya untuk memecahkan masalah yang
dihadapi terutama menyangkut pertumbuhan penduduk, kemiskinan, urbanisasi, dan
pengangguran masyarakatnya. Program dan kegiatan pembangunan pedesaan secara menyeluruh
menyangkut bidang ekonomi, sektor-sektor pendidikan, jesehatan, kesempatan kerja,
dan bidang sosial budaya dan lainnya.
Seperti dalam pembangunan ekonomi pada
umumnya, maka dalam mewujudkan tujuan pembangunan pedesaan, terdapat paling
sedikit empat jenis strategi, yaitu
(1) Strategi pertumbuhan,
(2) Strategi kesejahteraan,
(3) Strategi yang responsif terhadap
kebutuhan masyanakat,
(4) Strategi terpadu atau strategi
yang menyeluruh.
Pembangunan pedesaan yang memberi fokus
pada upaya penanggulangan kemiskinan, jika diorientasikan untuk mewujudkan
keberlanjutan proses dan manfaatnya di masa depan, maka strategi yang penting
dilaksanakan ialah menumbuhkan pembangunan yang berdasarkan kepercayaan diri
(self-reliant development). Adapun yang menjadi elemen utama dalam strategi
besar tersebut adalah pendekatan people driven dimana rakyat akan menjadi aktor
penting dalam setiap formulasi kebijakan dan pengambilan keputusan politis.
Juga diperlukan pelaksanaan perubahan paradigma yang meredefinisi peran pemerintah
yang akan lebih memberi otonomi pada rakyat, adanya transformasi kelembagaan
dari yang bersifat represif menjadi representatif, dan transparansi
penyelenggaraan pemerintahan. Secara konsepsional pendekatan pembangunan dengan
rakyat sebagai subjeknya berada pada jalan yang tepat, tetapi salah satu hal
yang perlu disadari bahwa hasil dari pendekatan yang digunakan itu secara umum
belum mencapai kondisi yang diinginkan, yaitu kemandirian masyarakat perdesaan.
Proses penguatan penduduk miskin yang mencakup lima aspek yaitu; pengembangan sumber
daya manusia, penyediaan modal kerja, penciptaan peluang dan kesempatan
berusaha, mengembangkan kelembagaan penduduk miskin, dan penciptaan sistem
pelayanan kepada penduduk miskin yang sederhana dan efisien.
PEMBANGUNAN PERDESAAN
Masyarakat perdesaan merupakan bagian
terbesar dari jumlah penduduk Indonesia
dengan berbagai kegiatan usaha berbasis pertanian dan sumberdaya local lainnya
sebagai usaha pencaharian mereka. Oleh karena itu, peningkatan kesejahteraan
kelompok masyarakat tersebut dilakukan secara menyeluruh baik secara sektoral
maupun secara spasial (perdesaan). Pada dasarnya arah kebijakan yang ditempuh
adalah untuk mengoptimalkan dan menggali potensi wilayah serta memberdayakan
masyarakat agar mampu mengelola potensi secara produktif dan efisien untuk
meningkatkan kesejahteraannya. Ada beberapa arah kebijakanpembangunan pertanian
dan perdesaan, antara lain sebagai berikut:
A. Peningkatan produktivitas, kualitas
petani, dan pertanian melalui kegiatan:
1.Penguatan kelembagaan dan penumbuhan
kembali sistem penyuluhan dan pendanaan
pinjaman pertanian dan perikanan serta peningkatan kemampuan petani melalui;
penyempurnaan dan pemanfaatan basis data serta informasi pertanian/perikanan; penguatan sistem
penyuluhan di daerah dan upayapendampingan kepada petani dan nelayan;
pendidikan dan latihan sertapembinaan petani dan pembudidayaan ikan.
2.Peningkatan diseminasi dan penerapan
teknologi tepat guna dan spesifikasi lokasi.
3.Penyempurnaan standar mutu dan
perbaikan mutu komunitas pertanian.
4.Pengembangan agrobisnis untuk
meningkatkan mutu, nilai tambah, dan daya saing komunitas pertanian/perikanan
melalui: pengembangan budidaya perikanan perdesaan, pengembangan tambak rakyat,
dan pengembangan sumber perikanan tangkap.
5. Peningkatan produksi peternakan dan
perkebunan.
6. Pengendalian hama dan penyakit
tanaman, ternak, dan ikan.
7. Penanganan pasca panen, pemasaran,
dan pengolahan hasil pertanian.
B. Peningkatan akses petani terhadap
sumberdaya produktif dan permodalan dilakukan melalui kegiatan pokok:
1.Penataan kepemilikan, penguasaan,
penggunaan, pemanfaatan, dan sertifikasi tanah dan tambak di perdesaan untuk
mendukung akses terhadap lahan dan bagunan dalam memperoleh permodalan.
2..Dukungan ketersediaan sarana
produksi dan pengolahan hasil pertanian, perikanan, dan kehutanan, termasuk
pengembangan industri pakan dan input produksi lainnya.
3.Pembangunan
dan rehabilitasi sarana dan prasarana produksi dan pengolahan perikanan seperti
pelabuhan perikanan (TPI), sarana tangkap, dan peralatan tangkap skala besar
dan kecil serta pembenihan di wilayah sentra perikanan.
4.Peningkatan
layanan lembaga keuangan perdesaan dan usaha kecil menengah
Teori
dan Konsep Dasar Pengembangan Masyarakat
Sejarah lahirnya teori pengembangan
masyarakat Sebagai sebuah wacana dalam ilmu sosial pada umumnya dan studi
pembangunan pada khususnya, pengembangan masyarakat menempati arti tersendiri.
Hal ini didasarkan atas debat kontemporer mengenai proses pembangunan sejak
dipertanyakannya perspektif modernisasi dalam pembangunan yang sarat akan bias
kepentingan Negara “maju”. Pengembangan masyarakat menjadi semacam spirit
atassebuah paradigma pembangunan yang tidak lagi delivered di mana direncanakan
oleh “atas” atau bahkan mengikuti pola “Barat”, tetapi sebagai sebuah
pembangunan yang berwarna people centered. Dengan berkembangnya gagasan-gagasan
dalam teori dependensia (hubungan ketergantungan, ada pihak dominant dan pihak
dependen) yang ingin secara lebih mandiri dan kontekstual melekukan peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, prinsip bottom-up menjadi sebuah kata
yang sangat menjanjikan atas dasar kegagalan berbagai Negara dalam
menyejahterakan rakyatnya.
Robert Chambers dalam karyanya yang
sangat kondang Putting The Last First (1983) lebih menyemangati arah tersebut
menjadi sebuah gerakan populis, kepada rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat.
Secara filosofi, tentu saja bukan hanya Chambers yang mengawali gagasan ini.
Dalam kaitannya dengan upaya-upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan taraf hidup (ekonomi)
masyarakat, wacana paradigmatik dalam ilmu ekonomi pun juga berkembang. Gunnar
Myrdal, misalnya, dalam buku Asian Drama, menyusun kembali ilmu ekonomi yang
berkaitan dengan nilai kemanusiaan, baik perorangan, masyarakat, maupun bangsa.
Muncul pula wajah kajian ekonomi baru dengan pendekatan humanistik dari Eugene
Lovell dalam bukunya yang terkenal Humanomic, dan dari E.F. Schumacher, yakni Small
is Beautiful, Economis as if People Mattered. Para ekonom telah menyadari
sepenuhnya bahwa meniadakan hubungan antar kajian ekonomi dan nilai-nilai moral
humanis adalah suatu kekeliruan besar dan tidak bertanggung jawab dalam menjaga
keselamatan manusia dan alam semesta.
Konsep Dasar Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat yang juga
dikenal dengan pembangunan masyarakat, menurut Dirjen Bangdes pada hakekatnya
merupakan proses dinamis yang berkelanjutan dari masyarakat untuk mewujudkan
keinginan dan harapan hidup yang lebih sejahtera dengan strategi menghindari
kemungkinan tersudutnya masyarakat desa sebagai penanggung ekses dari
pembangunan regional atau nasional. Pengertian tersebut mengandung makna,
betapa pentingnya inisiatif local, partisipasi masyarakat sebagai bagian dari
model-model pembangunan yang dapat menyejahterakan masyarakat desa (Soelaiman,
1998:132). Program pembangunan masyarakatini tidak berpusata pada birokrasi
melainkan berpusat pada masyarakatatau komunitasnya sendiri. Pemberian
kekuasaan pada inisiatif lokal dan partisipasi masyarakat menjadi kata kunci
dalam pembangunan masyarakat.
Berkaitan dengan batasan pengertian
di atas ada beberapa unsur dalam pengertian pembangunan masyarakat, yaitu
menitikberatkan pada komunitas sebagai suatu kesatuan, mengutamakan prakarsa
dan sumber daya setempat, sinergi antara sumber daya internal dan eksternal
serta terintegrasinya masyarakat local dan nasional. Pada arah tersebut,
pengembangan komunitas diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam
identifikasi kebutuhan mereka, kapasitas mengidentifikasi sumber daya, peluang
dan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan pembangunan. Peningkatan masyarakat
diarahkan pada kemampuan individu untuk memproses keseluruhan pengalaman
sosialnya, termasuk pemahamannya terhadap realitas di sekelilingnya dan
merealisasikan gagasan, target atau proyeknya.
Essensi yang terkandung dalam
pembangunan masyarakat pada hakekatnya tidak sekedar membantu masyarakat dalam
mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, namun lebih dari itu
pembangunan masyarakat merupakan usaha untuk membentuk kemandirian mereka,
sehingga dapat menghadapi permasalahannya sendiri. Implisit didalamnya, manusia
merupakan unsur pokok didalam proses pembangunan. Dengan demikian, selain
bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat, maka secara ideal pembangunan
masyarakat juga mempersyaratkan adanya partisipasi, kreatifitas dan inisiatif
dari masyarakat. Pembagunan akan berhasil guna ketika mampu menggerakkan
partisipasi masyarakat di dalamnya. Oleh karena itu, salah satu indicator
keberhasilan pembangunan masyarakat juga harus diukur dengan ada atau tidaknya
partisipasi masyarakat di dalamnya. Peningkatan kapasitas masyarakat menjadi
titik sentral dalam pembangunan masyarakat.
Menurut David C. Korten (Moeljarto,
1987:44) konsep pembangunan masyarakat pada hakekatnya memiliki beberapa aspek
sebagai berikut :
1. Keputusan dan inisiatif untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dibuat ditingkat lokal.
2. Fokus utama adalah memperkuat
kemampuan masyarakat miskin dalam mengawasi dan mengerahkan asset-asset untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan potensi daerah mereka sendiri.
3.
Memiliki toleransi terhadap perbedaan dan mengakui arti penting pilihan
nilai individu dan pembuatan keputusan yang telah terdistribusi.
4. Dalam rangka mencapai tujuan
pembangunan social dilakukan proses belajar sosial di mana individu
berinteraksi satu sama lain menembus batas-batas organisatoris dan dituntun
oleh kesadaran kritis individual.
5. Budaya kelembagaan ditandai dengan
adanya organisasi yang mengatur diri sendiri (adanya unit-unit lokal) yang
mengelola dirinya sendiri.
6.
Jaringan koalisi dan komunikasi pelaku (aktor) lokal dan unit-unit local
yang mengelola diri sendiri, mencakup kelompok penerima manfaat lokal,
organisasi pelayanan daerah, pemerintah daerah, bank-bank pedesaan dan
lain-lain akan menjadikan basis tindakan-tindakan lokal yang diserahkan untuk
memperkuat pengawasan lokal yang mempunyai dasar luas atas sumber-sumber dan
kemampuan lokal untuk mengelola sumber daya mereka.
David C. Korten memberi makna terhadap
pembangunan sebagai upaya memberikan kontribusi pada aktualisasi potensi
tertinggi kehidupan manusia. Menurutnya, pembangunan selayaknya ditujukan untuk
mencapai sebuah standar kehidupan ekonomi yang menjamin pemenuhan kebutuhan
dasar manusia. Kebutuhan dasar tidak dilihat dalam batasan-batasan minimum
manusia, yaitu kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, pakaian dan kesehatan,
tetapi juga sebagai kebutuhan akan rasa aman, kasih saying, mendapatkan
penghormatan dan kesempatan untuk bekerja secara fair, serta tentu saja
aktualisasi spiritual. Konsepsi akan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Dalam perspektif agama agaknya cukup relevan dalam konteks ini. Beberapa asumsi
yang dapat digunakan dalam rangka mewujudkan semangat ini akan dikemukakan
sebagai berikut :
Pertama, pada intinya upaya-upaya
pengembangan masyarakat dapat dilihat sebagai peletakan sebuah tatanan sosial
di mana manusia secara adil dan terbuka dapat melakukan usahanya sebagai
perwujudan atas kemampuan dan potensi yang dimilikinya sehingga kebutuhannya
(material dan spiritual) dapat terpenuhi. Pengembangan masyarakat, oleh karena
itu, tidak berwujud tawaran sebuah proyek usaha kepada masyarakat, tetapi sebuah
pembenahan struktur sosial yang mengedepankan keadilan. Pengembangan masyarakat
pada dasarnya merencanakan dan menyiapkan suatu perubahan sosial yang berarti
bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia.
Kedua, pengembangan masyarakat tidak
dilihat sebagai suatu proses pemberian dari pihak yang memiliki sesuatu kepada
pihak yang tidak memiliki. Kerangka pemahaman ini akan menjerumuskan kepada
usaha-usaha yang sekadar memberikan kesenangan sesaat dan bersifat tambal
sulam. Misalnya, pemberian bantuan dana segar (fresh money) kepda masyarakat
hanya akan mengakibatkan hilangnya kemandirian dalam masyarakat tersebut atau
timbulnya ketergantungan. Akibat yang lebih buruk adalah tumbuhnya mental
“meminta”.
Ketiga, pengembangan masyarakat mesti
dilihat sebagai sebuah proses pembelajaran kepada masyarakat agar mereka dapat
secara mandiri melakukan upaya-upaya perbaikan kualitas kehidupannya. Menurut
Soedjatmoko, ada suatu proses yang sering kali dilupakan bahwa pembangunan
adalah social learning. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat sesungguhnya
merupakan sebuah proses kolektif di mana kehidupan berkeluarga, bertetangga,
dan bernegara tidak sekadar menyiapkan penyesuaian-penyesuaian terhadap
perubahan sosial yang mereka lalui, tetapi secara aktif mengarahkan peubahan
tersebut pada terpenuhinya kebutuhan bersama.
Keempat, pengembangan masyarakat, oleh
karena itu, tidak mungkin dilaksanakan tanpa keterlibatan secara penuh oleh
masyarakat itu sendiri. Partisipasi bukan sekadar diartikan sebagai kontribusi
mereka dalam setiap tahapan yang mesti dilalui oleh suatu program kerja
pengembangan masyarakat, terutama dalam tahapan perumusan kebutuhan yang mesti
dipenuhi. Asumsinya, masyarakat yang paling tahu kebutuhan dan permasalahan
yang mereka hadapi.
Kelima, pengembangan masyarakat selalu
ditengarai dengan adanya pemberdayaan masyarakat. Tidak mungkin rasanya
tuntutan akan keterlibatan masyarakat dalam suatu program pembangunan tatkala
masyarakat itu sendiri tidak memiliki daya ataupun bekal yang cukup. Oleh
karena itu, mesti ada suatu mekanisme dan sistem untuk memberdayakan
masyarakat. Masyarakat harus diberi suatu kepercayaan bahwa tanpa ada
keterlibatan mereka secara penuh, perbaikan kualitas kehidupan mereka tidak
akan membawa hasil yang berarti. Memang sering kali pemberdayaan masyarakat
diawali dengan mengubah dahulu cara pandang masyarakat dari nrimo ing pandum
menjadi aktif partisipatif.
Dari asumsi dasara tersebut lahirlah
hak, nilai, dan keyakinan dalam masyarakat yang harus dihormati, antara lain :
1. Hak menentukan keputusan-keputusan
yang mempengaruhi kesejahteraan mereka. Hak ini akan muncul karena adanya
keyakinan bahwa masyarakat memiliki kemampuan (viabilitas) memecahkan
masalahnya sendiri.
2.
Masyarakat mempunyai hak untuk berusaha menciptakan lingkungan yang
diinginkannya dan menolak suatu lingkungan yang dipaksakan dari luar.
Penciptaan lingkungan sesuai keinginan ini tetap didasari ketenangan dan
ketentraman lingkungan lainnya sehingga dalam diri masyarakat terjadi interaksi
sosial aktif dan adaptif. Oleh karena itu, proses pembelajaran selalu lahir dan
potensi sosial.
3. Masyarakat harus diyakini mampu
bekerja sama secara rasional dalam bertindak untuk mengidentifikasi masalah dan
kebutuhan komunitasnya, serta bertindak dalam menggapai tujuan secara bersama.
Dengan demikian, dalam pembangunan masyarakat penting untuk memperhatikan
karakteristik komunitas dan masyarakat pada umumnya, terutama yang berkaitan
dengan penentuan kontribusi kekuasaan.
How to play Baccarat, which is the easiest and most
BalasHapusIn many ways, Baccarat is the most straightforward way to play. The two most important aspects of Baccarat are the 로투스 바카라 중계 사이트 house edge and the number of payouts
Dan juga bagi kamu yang butuh KUMPULAN CONTOH PROPOSAL LENGKAP, silahkan cek di link itu...
BalasHapusSalam bersinergi.
Harrah's New Orleans Casino & Hotel - JTM Hub
BalasHapusHarrah's New 충주 출장안마 Orleans 광주 출장안마 Casino & Hotel · New Orleans 속초 출장마사지 Harrahs Orleans Hotel · New Orleans Hotel · New Orleans Hotel & 인천광역 출장마사지 Casino · New Orleans Hotel & Casino · 나주 출장샵 New